Lebaran, Tapi Tak Lebaran
Apa yang kalian lakukan pada saat
persiapan lebaran pada hari esok? Apakah kalian melakukan persiapan atau malah
pergi keluar untuk membeli pakaian baru yang akan digunakan esok harinya? Apa
yang kalian lakukan tepat pada saat malam menjelang lebaran?
Ah, bagaimana dengan keesokkan harinya? Apa yang
kalian lakukan saat lebaran? Tentu saja, melaksanakan sholat Id, kan? Bersama
siapa kalian pergi ketika melaksanakan sholat Id? Baiklah, terlalu banyak
pertanyaan yang tidak akan kalian sanggup menjawabnya. Tidakkah kalian
penasaran dengan kegiatan yang saya lakukan saat lebaran? Sepertinya, tidak.
Namun, sebagaimana yang dituliskan, saya akan menceritakan sedikit kegiatan
saya mengenai lebaran, tapi tidak lebaran.
Hal pertama yang terpikir dari
kegiatan lebaran adalah pakaian baru. Seperti halnya orang lain, saya juga
membeli pakaian baru yang akan juga dipakai di asrama. Sedikit menyebalkan,
menurut saya. Saya menghela nafas ketika memikirkan kemungkinan itu. Saya tidak
suka dengan sesuatu yang berlebihan, terutama yang akan saya kenakan saat
lebaran. Jadi, saya hanya membeli pakaian kemeja dan kaos yang berkerah. Well,
sepertinya saya cukup memiliki sifat laki-laki.
Tapi, berbeda dengan rumah saya.
Lebaran dua tahun lalu, Ibu saya membuat bebek goreng sambel hijau. Tidakkah
itu enak walaupun ada rasa pedas? Lebaran satu tahun lalu, Ibu saya membuat
udang rica-rica. Pedas, tapi nikmat untuk dimakan. Bahkan, tante saya sampai
menyukai bumbunya. Lebaran tahun ini, tidak ada yang dilakukan. Well, walaupun
Ibu saya tetap memasak, tapi untuk dimakan sendiri.
Lebaran pertama Ibu ada di rumah.
Lebaran kedua Ibu ada di kantor. Lebaran ketiga Ibu ada di rumah. Namun, hari
keempat dan seterusnya hingga hari Minggu dimana saya akan kembali ke asrama
Ibu bekerja. Sebenarnya, saya cukup sedih. Namun, apa daya Ibu saya bekerja
untuk mendapatkan uang yang dimana suatu hari akan dipakai untuk keperluan masa
depan, bukan? Apa hak saya melarang Ibu saya bekerja? Itu adalah tanggung
jawabnya.
Bahkan ketika saya menghabiskan masa
liburan satu bulan saya, Ibu selalu pulang malam. Kegiatan saya di rumah pun,
hanya sekedar menunggu waktu berbuka puasa dan mengurusi adik saya. Jadi,
sebenarnya apa yang menganggu saya? Apa kalian menyadarinya? Menyadari apa yang
menganggu saya? Tidakkah kalian menyadarinya?
Saya
merindukan Ibu saya.
Sebagai
anak, saya merindukan dan mencintai Ibu saya.
Yap, hanya ini yang mampu saya
cerita dari hasil liburan saya. Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar