Sabtu, 02 Agustus 2014

Tugas Liburan Sekolah

Lebaran, Tapi Tak Lebaran


Apa yang kalian lakukan pada saat persiapan lebaran pada hari esok? Apakah kalian melakukan persiapan atau malah pergi keluar untuk membeli pakaian baru yang akan digunakan esok harinya? Apa yang kalian lakukan tepat pada saat malam menjelang lebaran? 

Ah, bagaimana dengan keesokkan harinya? Apa yang kalian lakukan saat lebaran? Tentu saja, melaksanakan sholat Id, kan? Bersama siapa kalian pergi ketika melaksanakan sholat Id? Baiklah, terlalu banyak pertanyaan yang tidak akan kalian sanggup menjawabnya. Tidakkah kalian penasaran dengan kegiatan yang saya lakukan saat lebaran? Sepertinya, tidak. Namun, sebagaimana yang dituliskan, saya akan menceritakan sedikit kegiatan saya mengenai lebaran, tapi tidak lebaran.
 
Hal pertama yang terpikir dari kegiatan lebaran adalah pakaian baru. Seperti halnya orang lain, saya juga membeli pakaian baru yang akan juga dipakai di asrama. Sedikit menyebalkan, menurut saya. Saya menghela nafas ketika memikirkan kemungkinan itu. Saya tidak suka dengan sesuatu yang berlebihan, terutama yang akan saya kenakan saat lebaran. Jadi, saya hanya membeli pakaian kemeja dan kaos yang berkerah. Well, sepertinya saya cukup memiliki sifat laki-laki.

Hal kedua yang terpikir adalah makanan yang tersaji saat lebaran. Well, ini seharusnya menempati posisi pertama untuk hal yang dipikirkan. Tapi, apa guna? Kebanyakan orang memikirkan pakaian yang akan digunakan. Ketupat dan buras ditemani dengan opor ayam? Entah kenapa, saya yakin di setiap rumah yang merayakan lebaran pastilah ada tiga komponen makanan ini.
 
Tapi, berbeda dengan rumah saya. Lebaran dua tahun lalu, Ibu saya membuat bebek goreng sambel hijau. Tidakkah itu enak walaupun ada rasa pedas? Lebaran satu tahun lalu, Ibu saya membuat udang rica-rica. Pedas, tapi nikmat untuk dimakan. Bahkan, tante saya sampai menyukai bumbunya. Lebaran tahun ini, tidak ada yang dilakukan. Well, walaupun Ibu saya tetap memasak, tapi untuk dimakan sendiri.

Karena itulah, saya memberi judul cerita ini adalah lebaran, tapi tidak lebaran. Ah, menyedihkannya. Bagaimana perasaan Anda ketika hari dimana Anda seharusnya menghabiskan waktu bersama keluarga malah menjadi hari dimana menunggu Ibu pulang kerja? Well, cukup menyedihkan. Namun, sebagaimana orang lain. Ibu saya memiliki tanggung jawab.

Lebaran pertama Ibu ada di rumah. Lebaran kedua Ibu ada di kantor. Lebaran ketiga Ibu ada di rumah. Namun, hari keempat dan seterusnya hingga hari Minggu dimana saya akan kembali ke asrama Ibu bekerja. Sebenarnya, saya cukup sedih. Namun, apa daya Ibu saya bekerja untuk mendapatkan uang yang dimana suatu hari akan dipakai untuk keperluan masa depan, bukan? Apa hak saya melarang Ibu saya bekerja? Itu adalah tanggung jawabnya.

Bahkan ketika saya menghabiskan masa liburan satu bulan saya, Ibu selalu pulang malam. Kegiatan saya di rumah pun, hanya sekedar menunggu waktu berbuka puasa dan mengurusi adik saya. Jadi, sebenarnya apa yang menganggu saya? Apa kalian menyadarinya? Menyadari apa yang menganggu saya? Tidakkah kalian menyadarinya?

            Saya merindukan Ibu saya.
            Sebagai anak, saya merindukan dan mencintai Ibu saya.

Yap, hanya ini yang mampu saya cerita dari hasil liburan saya. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar