Selasa, 27 Mei 2014

Sakit dan Rusaknya Hati

Ia adalah seorang lelaki yang merusak hidupku. Ia adalah seorang lelaki yang menakutiku. Ia adalah seorang lelaki yang mengacaukan isi kepalaku. Ia adalah seorang lelaki yang membuatku terpuruk dan sakit saat bersamaan. Ia adalah seorang lelaki yang  membuatku menghindari matanya ketika mata kam bertemu. Ia adalah seorang lelaki yang sudah memiliki seorang perempuan yang ia kasihi.

Aku telah jatuh cinta pada orang salah. Sekali lagi, dengan berani dan berandai aku menyakiti hati ini. Jatuh cintaku kali ini mengingatku pada kisah cinta bertepuk sebelah tangan selama tujuh tahun. Sakit? Ya. Rasa sakit ditolak tanpa mengungkapkan perasaan membuat hati ini sudah rusak. Hati ini sudah rusak. Hati ini memang telah lama rusak. Akankah hati ini membusuk? Akankah ada yang akan mengobatinya? Akankah ada yang menjaga dan merawat hati ini?

Ugh, ketika mengetik ini aku merasakan bahwa hati ini sedang menangis. Menangis dengan tetes demi tetes darah yang jatuh. Menangis dengan berdetak rasa mencintai dan ingin dicintai. Menangis dengan tiap detakan yang seakan mengatakan aku menyukaimu. Menangis dengan semua khayalan yang hanya sebuah ilusi. Menangis. Aku tertawa. Ilusi? Aku menangisi sebuah ilusi.

Oh, hati ini teremas dengan kuat. Seakan ada cakar elang raksasa yang menggenggamnya. Terkadang aku terpikir bagaimana rasanya hidup dengan satu detakan terakhir. Sanggupkah aku meninggalkan orangtua yang telah merawat dan menjagaku selama ini? Sanggupkah aku meninggalkan sebuah kenangan menyedihkan yang membekas di hati? Ada berbagi macam pertanyaan yang muncul dalam diriku.

Apa ada yang peduli denganku?
Apa ada yang merasa kehilangan jikalau aku pergi meninggalkan dunia ini?
Apa ada yang menangisiku?

Ah, dasar aku ini. Aku adalah makhluk hidup bernafas yang menyedihkan. Aku adalah makhluk hidup yang tak pantas dikasihani. Pantaskah aku hidup ketika ada orang lain yang menderita? Pantaskah aku menginjak kakiku di tanah Allah?

Ah, ah... Kembali pada rusaknya hati ini.

28 Mei 2014 ini, aku merasakan sakit. Sakit yang mendera kepalaku. Sakit yang mendera jantungku. Sakit yang medera pernapasanku. Sakit ini menyiksa organ tubuhku. Sakit ini membuat air mataku dengan perlahan jatuh mengaliri pipiku. Membasahi kertas putih yang ada di hadapanku.

Di luarpun hujan menangisiku. Menangisiku yang sedang menangis. Menyedihkan sekali makhluk hidup ini.

Semoga semua yang telah kulakukan di dunia ini, dihargai oleh orang yang memang berhak dan memiliki hak untuk menghargai yang telah kulakukan.

Terima kasih, Ya ALLAH. Terima kasih karena sudah memberikan roh, jodoh, dan takdir dalam hidupku. Terima kasih karena sudah meniupkan, menemaniku, dan menjagaku selama aku berada di dalam ruang gelap di bagian tubuh IBUku.

1 komentar: