oOo
Nuit ténѐbres…
—Kegelapan malam
oOo
Bunyi gemuruh terdengar semenjak satu jam yang lalu.
Awan mendung dengan perlahan mulai bergerak untuk menutupi langit biru yang
cerah. Ia memandang langit dan ia mengabaikan fakta jika ia mungkin saja akan
kehujanan. Ia bersikeras tetap berjalan kaki menuju rumahnya. Buku yang semula
ia turunkan, ia buka kembali dan mulai membaca sambil berjalan. Ini
kebiasaannya semenjak ia sudah hafal jalan menuju rumahnya.
TES… TES…
Dua
tetes air turun dan mengenai bukunya. Ia terdiam memandang tetesan air tersebut
dan kemudian, ia menggerakkan tangan kirinya untuk menghapus tetesan air
tersebut. Tetesan air hujan mulai turun semakin banyak. Ia pun segera menutup
bukunya dan mendekapnya di dada agar tidak basah. Ia berlari mencari tempat
berteduh terdekat. Tidak hanya ia yang berlari, beberapa pejalan kaki yang
berjalan pun langsung mencari tempat teduh.
oOo
Il était une
fois
—Pernah suatu ketika
oOo
Tidak
ada tempat yang tersisa. Semua tempat teduh sudah ramai oleh para pejalan kaki
yang berlari cepat. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar dan ia menemukan sebuah halte tua dengan beberapa tumbuhan
menjalar di tiang-tiang penopangnya. Kenapa
tidak ada yang ke sana?, pikirnya. Tempat cukup lebar dengan atap yang
sedikit berlubang diakibatkan dari perkaratan. Lebih baik aku ke sana saja, pikirnya.
Ia
berlari lebih kencang menuju halte tua tersebut dan berdiri di bawah atap yang
tidak bocor. Ia yakin ia sudah cukup basah dan ini bisa mengakibatkan ia
kedinginan. Ini menyebalkan,
pikirnya. Ia bersandar pada tiang halter tua iu dan kembali fokus membaca buku
yang dibacanya tanpa mempedulikan tatapan orang yang menatapnya dengan aneh.
Apa yang dia pikirkan?
Apa yang dia lakukan di halte angker
itu? Pikiran orang-orang
yang menatapnya aneh dapat dibaca melalui ekspresi wajah mereka. Apa dia normal?
Ia
mulai menyadari jika ia telah diperhatikan, namun ia menolehkan pandangan
matanya ke tiang penopang sisi sampingnya. Ia menaikkan salah satu alinya dan
memperhatikan pria itu dengan tatapananeh. Ia yakin jika pria itu yang
memperhatikannya dari dekat, tapi kenapa malah jadi ia yang terlihat
memperhatikan pria itu dan pria itu malah memandang awan? Ia menatap datar dan mengalihkan
pandangannya dan kembali membaca bukunya. Ia tidak peduli. Ia mendengar suara
terkekeh pelan. Ia berniat membalik lembar halaman selanjutnya, sebelum sebuah
suara menginterupsinya.
“Hey—Hei,”
DEG
Tangan
berhenti. Niatnya untuk membalik halaman selanjutnya terhenti. Ia canggung dan
ia yakin bukan ia yang dipanggil sehingga ia berusaha menormalkan
gerak-geriknya dan membalik halaman selanjutnya. Ia lanjut membaca bukunya.
“Hey,
je parle de vous, fille éstrange aux cheveux—Hei, aku berbicara padamu,
gadis berambut aneh,”
oOo
Je rêve d’une
nuit froide
—Aku memimpikanmu di malam yang dingin
oOo
Ia
mengalihkan pandangan dari bukunya dan menatap pria di sampingnya dengan datar.
Ia hanya diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut pria
tak dikenal itu. Ia mengangkat alis kirinya dan berniat untuk kembali
melanjutkan bacaannya, ia mengalihkan pandangannya menuju buku, sebelum—
“Tidak
bisakah kamu menanggapinya? Apa kamu tidak bisa berbicara?”
Ia
menghela nafas dan langsung menoleh dengan cepat. Ia menatap pria itu sinis.
“Tidak bisakah Anda diam? Apakah Anda tidak bisa melihat?” balasnya sinis dan
memperlihatkan bukunya.
Pria
itu terkekeh tiba-tiba. Jadi, tadi suara
kekehannya, pikirnya. “Oh, ya… Et mes cheveux est pas étran—Dan
rambutku tidak aneh.” Ia mengakhiri percakapannya.
“Jika
tidak aneh apa? Frappante?—Mencolok?” tanya pria itu lagi. Ia menoleh dengan
cepat dan kembali menatapnya sinis. Tatapannya mengatakan bisakah-Anda-diam-?
dan diacuhkan oleh pria itu.
“Walaupun
Anda menghina rambut saya, saya tidak akan mengganti warnanya. Aucun
de vos cheveux—Rambutku bukan urusan Anda,” ia tersenyum sabar.
“Je
comprends—Aku mengerti,” pria itu tersenyum dan memperhatikannya.
oOo
Obscurité
enveloppant à ce moment-
—Gelap yang menyelimutiku di kala itu
oOo
Pria
itu diam memperhatikannya dan ia pun balik memperhatikannya. Tidak ada
kata-kata yang membuka kembali pembicaraan. Awalnya, ia hanya memperhatikan
wajah dan tidak memfokuskan penglihatannya. Namun, entah bagaimana ia tiba-tiba
terperangkap ke dalam bola mata hitam pria itu. Bola mata hitam yang indah, pikirnya.
Mereka
masih saling memandang dalam kesunyian, tidak berniat membuka pembicaraan
karena mereka tahu jika mereka jatuh dalam pesona bola mata lawannya. Pesona
yang kuat dan cantik.
oOo
Rappelle globes
oculaires
—Mengingatkanku akan bola matamu
oOo
Ia
sadar dan berusaha memalingkan wajahnya sebelum berubah menjadi merah karena
takut ketahuan jatuh dalam pesona pria itu. Ia berusaha mengatur detak jantung
yang tidak normal. Ia tidak suka sensasi ini.
“Hey,
tes yeux sont magnifiques—Hei, matamu indah,” pria itu bersuara dan ia
menoleh cepat, menatap kembali sepasangan onyx. Terisi kejenakaan di sana, pikirnya.
Ia
menatap datar pria di sampingnya. “Tidak bisakah Anda diam, Tuan—“
“Sasuke.
Uchiha Sasuke,” selanya sembari sedikit membungkukkan badan. Ia bingung. Kenapa ia memperkenalkan dirinya dengan gaya
bangsawan Eropa?, pikirnya. “Et votre nom, mademoiselle?—Dan
namamu, Nona?” tanya pria itu setelah kembali menegakkan badannya.
“Kenapa
saya harus memberitahukan nama saya, maître Uchiha—Tuan Uchiha?”
“Sasuke.
Appelez-moi
du nom de ‘Sasuke’, dame éstrange aux cheveux
—Panggil aku dengan nama Sasuke, nona berambut aneh,” pria itu tersenyum tipis.
“Jangan
menghina rambutku,” ia menatapnya sinis.
“Aku
tidak tahu harus memanggil apa. Kamu belum menyebut namamu, dame
éstrange—“
“Haruno
Sakura,”
Pria
itu tersenyum lembut.
oOo
Vos formes clair
—Rupamu tidak jelas…
oOo
“Sepenting
itukah nama saya, maîtr—“
“Sasuke.”
“Tapi—“
“Sasuke.”
“Bien—Baiklah,”
Sakura menghelas nafas. Ini menyebalkan.
Tidak bisakah orang ini pergi?, pikir Sakura.
Sasuke
terkekeh pelan dan kembali memperhatikan Sakura. “Aku tadi sudah bilang, kan?
Matamu indah,” diam. “Aku jadi ingin mengambilnya,” dengan senyum psikopat,
Sakura langsung merinding mendengar perkataannya.
Tatapan
Sakura langsung datar sedatarnya. “Aller en enfer là-bas!—Pergi ke
neraka sana!” dan mengucapkannya dengan datar. Sakura langsung mengalihkan
wajahnya dan kembali membaca buku. Sasuke langsung tertawa melihat reaksi
Sakura. “Pas drôle—Tidak lucu.”
“Pardon
pardon—Maaf, maaf…” Sasuke masih berusaha mengontrol tawanya.
“Suce—Menyebalkan,”
suara Sakura memelan. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat pandangan orang
yang melihatnya dengan aneh. Ada apa?,
pikirnya. Karena ia tidak peduli, ia pun memandang Sasuke yang berjarak dekat
dengannya.
oOo
Mais par une
nuit froide,
—Tapi, di malam yang dingin itu,
oOo
“Apa
yang kamu pikirkan, Sakura?” Sasuke menatapnya dengan jarak yang dekat. Bahu
mereka bersentuhan. Bahu Sasuke terasa dingin, tapi entah mengapa Sakura merasa
hangat. Ia merasa nyaman dan aman. Perasaan
apa ini?, pikir Sakura.
“Rien—Tidak
ada. Hanya memikirkan Anda adalah orang yang sok kenal dan menyebalkan,” sinis
Sakura dengan tatapan datar.
Sasuke
membalasnya dengan lebih datar dan dingin. “Itu namanya kamu berpikir. Dan…
Jangan pakai bahasa formal,”
“Kan
itu pilihan saya,” Sakura mendongakkan kepalanya dan memperhatikan tetesan
hujan yang mulai mereda. Hujan yang deras perlahan hilang dan digantikan dengan
rintik-rintik kecil. Hujan deras membentuk genangan air di trotoar. Aroma hujan
dan tanah bercampur dan Sakura menyukainya. Ia menyukai aroma ini. Aroma hujan,
tanah, rumput yang saling bercampur, membuatnya segar.
“Saya
harus pergi, Sasuke. Permisi,” Sakura membungkuk sopan dan berjalan menjauhi
halte bus yang sudah tua itu. Sasuke pun membalasnya dengan membungkuk juga.
“Au
revoir, Sakura—Sampai jumpa, Sakura,” suaranya memelan, terdengar lirih
dan sedih. Sasuke masih melanjutkan ucapannya, tapi kalimat terakhir yang ia
ucapkan tidak terdengar dengan jelas.
Sakura
mendengar ucapan perpisahan Sasuke, tapi ia tidak mendengar kalimat
selanjutnya. Apa yang dia ucapkan?,
pikirnya. Tapi, Sakura terus berlari berharap hujan tidak turun lagi dan
menghalanginya. Sakura berlari dan menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang ada di
benak orang-orang yang memperhatikan sedari tadi dari tempat teduh tidak jauh
darinya. Dari ia berlari menuju halte tua itu dan ketika ia berbicara sendiri.
Yah, berbicara sendiri. Sakura tidak menyadarinya jika ia hanya sendiri di
halte tua itu dan gerak-geriknya yang berbicara dengan orang lain masuk dalam
penglihatan mereka padahal ia hanya sendiri.
Sakura
belum menyadarinya.
Jika,
Sasuke—pria yang baru dikenal—adalah sosok yang tidak dilihat oleh orang lain, kecuali—
Dirinya.
“Aku merindukanmu, Sakura,”
oOo
Je me trouvais à
un arrêt de bus vieux
—aku berdiri di sebuah halte bus tua
oOo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar