Kamis, 19 November 2015

Nuit Ténѐbres Chapitre 1 - Fanfic SasuSaku

oOo
Nuit ténѐbres…
—Kegelapan malam
oOo
Bunyi gemuruh terdengar semenjak satu jam yang lalu. Awan mendung dengan perlahan mulai bergerak untuk menutupi langit biru yang cerah. Ia memandang langit dan ia mengabaikan fakta jika ia mungkin saja akan kehujanan. Ia bersikeras tetap berjalan kaki menuju rumahnya. Buku yang semula ia turunkan, ia buka kembali dan mulai membaca sambil berjalan. Ini kebiasaannya semenjak ia sudah hafal jalan menuju rumahnya.
            TES… TES…
        Dua tetes air turun dan mengenai bukunya. Ia terdiam memandang tetesan air tersebut dan kemudian, ia menggerakkan tangan kirinya untuk menghapus tetesan air tersebut. Tetesan air hujan mulai turun semakin banyak. Ia pun segera menutup bukunya dan mendekapnya di dada agar tidak basah. Ia berlari mencari tempat berteduh terdekat. Tidak hanya ia yang berlari, beberapa pejalan kaki yang berjalan pun langsung mencari tempat teduh.
oOo
Il était une fois
—Pernah suatu ketika
oOo
           Tidak ada tempat yang tersisa. Semua tempat teduh sudah ramai oleh para pejalan kaki yang berlari cepat. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar dan ia menemukan  sebuah halte tua dengan beberapa tumbuhan menjalar di tiang-tiang penopangnya. Kenapa tidak ada yang ke sana?, pikirnya. Tempat cukup lebar dengan atap yang sedikit berlubang diakibatkan dari perkaratan. Lebih baik aku ke sana saja, pikirnya.
            Ia berlari lebih kencang menuju halte tua tersebut dan berdiri di bawah atap yang tidak bocor. Ia yakin ia sudah cukup basah dan ini bisa mengakibatkan ia kedinginan. Ini menyebalkan, pikirnya. Ia bersandar pada tiang halter tua iu dan kembali fokus membaca buku yang dibacanya tanpa mempedulikan tatapan orang yang menatapnya dengan aneh.
            Apa yang dia pikirkan?
         Apa yang dia lakukan di halte angker itu? Pikiran orang-orang yang menatapnya aneh dapat dibaca melalui ekspresi wajah mereka. Apa dia normal?
        Ia mulai menyadari jika ia telah diperhatikan, namun ia menolehkan pandangan matanya ke tiang penopang sisi sampingnya. Ia menaikkan salah satu alinya dan memperhatikan pria itu dengan tatapananeh. Ia yakin jika pria itu yang memperhatikannya dari dekat, tapi kenapa malah jadi ia yang terlihat memperhatikan pria itu dan pria itu malah memandang awan? Ia menatap datar dan mengalihkan pandangannya dan kembali membaca bukunya. Ia tidak peduli. Ia mendengar suara terkekeh pelan. Ia berniat membalik lembar halaman selanjutnya, sebelum sebuah suara menginterupsinya.
           “Hey—Hei,”
           DEG
       Tangan berhenti. Niatnya untuk membalik halaman selanjutnya terhenti. Ia canggung dan ia yakin bukan ia yang dipanggil sehingga ia berusaha menormalkan gerak-geriknya dan membalik halaman selanjutnya. Ia lanjut membaca bukunya.
        “Hey, je parle de vous, fille éstrange aux cheveux—Hei, aku berbicara padamu, gadis berambut aneh,”
oOo
Je rêve d’une nuit froide
—Aku memimpikanmu di malam yang dingin
oOo
        Ia mengalihkan pandangan dari bukunya dan menatap pria di sampingnya dengan datar. Ia hanya diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut pria tak dikenal itu. Ia mengangkat alis kirinya dan berniat untuk kembali melanjutkan bacaannya, ia mengalihkan pandangannya menuju buku, sebelum—
            “Tidak bisakah kamu menanggapinya? Apa kamu tidak bisa berbicara?”
         Ia menghela nafas dan langsung menoleh dengan cepat. Ia menatap pria itu sinis. “Tidak bisakah Anda diam? Apakah Anda tidak bisa melihat?” balasnya sinis dan memperlihatkan bukunya.
            Pria itu terkekeh tiba-tiba. Jadi, tadi suara kekehannya, pikirnya. “Oh, ya… Et mes cheveux est pas étran—Dan rambutku tidak aneh.” Ia mengakhiri percakapannya.
            “Jika tidak aneh apa? Frappante?—Mencolok?” tanya pria itu lagi. Ia menoleh dengan cepat dan kembali menatapnya sinis. Tatapannya mengatakan bisakah-Anda-diam-? dan diacuhkan oleh pria itu.
            “Walaupun Anda menghina rambut saya, saya tidak akan mengganti warnanya. Aucun de vos cheveux—Rambutku bukan urusan Anda,” ia tersenyum sabar.
            “Je comprends—Aku mengerti,” pria itu tersenyum dan memperhatikannya.
oOo
Obscurité enveloppant à ce moment-
—Gelap yang menyelimutiku di kala itu
oOo
           Pria itu diam memperhatikannya dan ia pun balik memperhatikannya. Tidak ada kata-kata yang membuka kembali pembicaraan. Awalnya, ia hanya memperhatikan wajah dan tidak memfokuskan penglihatannya. Namun, entah bagaimana ia tiba-tiba terperangkap ke dalam bola mata hitam pria itu. Bola mata hitam yang indah, pikirnya.
          Mereka masih saling memandang dalam kesunyian, tidak berniat membuka pembicaraan karena mereka tahu jika mereka jatuh dalam pesona bola mata lawannya. Pesona yang kuat dan cantik.
oOo
Rappelle globes oculaires
—Mengingatkanku akan bola matamu
oOo
              Ia sadar dan berusaha memalingkan wajahnya sebelum berubah menjadi merah karena takut ketahuan jatuh dalam pesona pria itu. Ia berusaha mengatur detak jantung yang tidak normal. Ia tidak suka sensasi ini.
           “Hey, tes yeux sont magnifiques—Hei, matamu indah,” pria itu bersuara dan ia menoleh cepat, menatap kembali sepasangan onyx. Terisi kejenakaan di sana, pikirnya.
               Ia menatap datar pria di sampingnya. “Tidak bisakah Anda diam, Tuan—“
           “Sasuke. Uchiha Sasuke,” selanya sembari sedikit membungkukkan badan. Ia bingung. Kenapa ia memperkenalkan dirinya dengan gaya bangsawan Eropa?, pikirnya. “Et votre nom, mademoiselle?—Dan namamu, Nona?” tanya pria itu setelah kembali menegakkan badannya.
            “Kenapa saya harus memberitahukan nama saya, maître Uchiha—Tuan Uchiha?”
           “Sasuke. Appelez-moi du nom de ‘Sasuke’, dame éstrange aux cheveux —Panggil aku dengan nama Sasuke, nona berambut aneh,” pria itu tersenyum tipis.
            “Jangan menghina rambutku,” ia menatapnya sinis.
            “Aku tidak tahu harus memanggil apa. Kamu belum menyebut namamu, dame éstrange—“
            “Haruno Sakura,”
            Pria itu tersenyum lembut.
oOo
Vos formes clair
—Rupamu tidak jelas…
oOo
            “Sepenting itukah nama saya, maîtr—
            “Sasuke.”
            “Tapi—“
            “Sasuke.”
            “Bien—Baiklah,” Sakura menghelas nafas. Ini menyebalkan. Tidak bisakah orang ini pergi?, pikir Sakura.
            Sasuke terkekeh pelan dan kembali memperhatikan Sakura. “Aku tadi sudah bilang, kan? Matamu indah,” diam. “Aku jadi ingin mengambilnya,” dengan senyum psikopat, Sakura langsung merinding mendengar perkataannya.
            Tatapan Sakura langsung datar sedatarnya. “Aller en enfer là-bas!—Pergi ke neraka sana!” dan mengucapkannya dengan datar. Sakura langsung mengalihkan wajahnya dan kembali membaca buku. Sasuke langsung tertawa melihat reaksi Sakura. “Pas drôle—Tidak lucu.”
            “Pardon pardon—Maaf, maaf…” Sasuke masih berusaha mengontrol tawanya.
            “Suce—Menyebalkan,” suara Sakura memelan. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat pandangan orang yang melihatnya dengan aneh. Ada apa?, pikirnya. Karena ia tidak peduli, ia pun memandang Sasuke yang berjarak dekat dengannya.
oOo
Mais par une nuit froide,
—Tapi, di malam yang dingin itu,
oOo
            “Apa yang kamu pikirkan, Sakura?” Sasuke menatapnya dengan jarak yang dekat. Bahu mereka bersentuhan. Bahu Sasuke terasa dingin, tapi entah mengapa Sakura merasa hangat. Ia merasa nyaman dan aman. Perasaan apa ini?, pikir Sakura.
            “Rien—Tidak ada. Hanya memikirkan Anda adalah orang yang sok kenal dan menyebalkan,” sinis Sakura dengan tatapan datar.
            Sasuke membalasnya dengan lebih datar dan dingin. “Itu namanya kamu berpikir. Dan… Jangan pakai bahasa formal,”
            “Kan itu pilihan saya,” Sakura mendongakkan kepalanya dan memperhatikan tetesan hujan yang mulai mereda. Hujan yang deras perlahan hilang dan digantikan dengan rintik-rintik kecil. Hujan deras membentuk genangan air di trotoar. Aroma hujan dan tanah bercampur dan Sakura menyukainya. Ia menyukai aroma ini. Aroma hujan, tanah, rumput yang saling bercampur, membuatnya segar.
            “Saya harus pergi, Sasuke. Permisi,” Sakura membungkuk sopan dan berjalan menjauhi halte bus yang sudah tua itu. Sasuke pun membalasnya dengan membungkuk juga.
            “Au revoir, Sakura—Sampai jumpa, Sakura,” suaranya memelan, terdengar lirih dan sedih. Sasuke masih melanjutkan ucapannya, tapi kalimat terakhir yang ia ucapkan tidak terdengar dengan jelas.
            Sakura mendengar ucapan perpisahan Sasuke, tapi ia tidak mendengar kalimat selanjutnya. Apa yang dia ucapkan?, pikirnya. Tapi, Sakura terus berlari berharap hujan tidak turun lagi dan menghalanginya. Sakura berlari dan menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak orang-orang yang memperhatikan sedari tadi dari tempat teduh tidak jauh darinya. Dari ia berlari menuju halte tua itu dan ketika ia berbicara sendiri. Yah, berbicara sendiri. Sakura tidak menyadarinya jika ia hanya sendiri di halte tua itu dan gerak-geriknya yang berbicara dengan orang lain masuk dalam penglihatan mereka padahal ia hanya sendiri.
            Sakura belum menyadarinya.
            Jika, Sasuke—pria yang baru dikenal—adalah sosok yang tidak dilihat oleh orang lain, kecuali
            Dirinya.
            “Aku merindukanmu, Sakura,”
oOo
Je me trouvais à un arrêt de bus vieux
—aku berdiri di sebuah halte bus tua

oOo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar