Langit biru memenjarai
dunia. Memenjarai dunia layaknya sebuah bendungan air yang menghalangi air
mengalir ke sebuah desa. Memenjarai dunia layaknya sebuah perasaan kasih sayang
di hati. Perasaan kasih sayang? Ya, kasih sayang yang lahir dari hati kecilmu.
Hati kecil yang membuat debaran tak menentu. Hati yang tenang kini terusik oleh
sebuah perasaan ketakutan akan jatuh cinta.
Itu semua lahir ketika
ia mulai terjebak dalam dunianya. Dunia lelaki yang ia cintai dari lubuk
hatinya yang kecil dan dalam. Namun, bagaimana dengan lelaki itu? Bagaimana
perasaan laki-laki itu padanya? Akankah cinta ini terbalas untuk pertama
kalinya? Bisakah sekali saja biarkan ia memandangi laki-laki dalam diamnya?
Bisakah sekali saja biarkan ia memimpikan laki-laki itu dalam bunga tidurnya?
Apa jawabannya?
Tidak, tidak ada. Karena
perasaan ini belum terbalas. Ini hanyalah kisah seorang bertepuk sebelah tangan
pada pria yang ia cintai dan akankah kisah berakhir tragis?
.
Cinta itu mengalir
Alirannya membuat debaran tak menentu
Layaknya aliran air yang tenang menjadi bergelora
.
Tidakkah kalian tahu
bahwa dunia itu terpenjara? Apa jawabannya kalian?
Dunia ingin keluar dari
bendungan penjara ini. Namun, ia dihalangi oleh sebuah penghalang. Tahukah
kalian atmosfer yang selama ini menghalangi dunia keluar? Tahukah kalian gaya
gravitasi yang selama ini menghalangi dunia keluar? Dunia dihalangi oleh sebuah
perasaan. Ya, ia dihalangi untuk melangkah maju oleh sebuah perasaan yang tidak
seharusnya ada.
.
Kamu diam termenung
melihat kebahagiaan seseorang yang kamu sayangi. Ia tidak ingin diam. Namun,
situasi dan suasana mengatakannya untuk diam. Apa yang membuatnya terdiam? Apa?
Kamu hanya sanggup menatap kebahagiaan yang terpancar dari seseorang yang kamu
sayangi itu. Ia adalah sahabatmu. Sahabat yang dulu menemanimu dikala suka dan
duka. Sahabat yang dulu bersamamu. Sahabat yang dulu selalu disampingmu. Ya,
itu dulu. Sekarang sahabatmu telah menemukan kebahagiaannya.
Sahabatmu tersenyum
ketika ia melihatmu dari kejauhan. Apa yang membuatnya tersenyum? Apa karena
kamu datang? Atau karena kamu melihat kebahagiaannya?
Sahabatmu memanggilmu
dan kamu melangkah mendekatinya walaupun tiap langkah yang kamu ambil menimbulkan luka teriris di hati kecilmu. Kamu tersenyum dan melambaikan
tanganmu. Berusaha tersenyum walaupun keadaan ini membahagiakan.
Sahabatmu merangkulmu
dan ia memperkenalkanmu pada kekasih sahabatmu bahwa kamu adalah sahabatnya.
Ya, sebatas sahabat.
.
Adakalanya air itu tenang
Adakalanya air itu bergelora
Adakalanya air menangis di dalam air
Ketenangan dan senyumanmu tidak menjawab jawaban yang diinginkan
dunia
Cinta itu menyakitkan
.
Hari ini adalah hari membahagiakan
untuk sahabatmu. Karena ini adalah hari pernikahannya. Kamu diundang ke pesta
pernikahan, tapi sanggupkah kamu datang? Sanggupkah kamu melihat sahabat yang
kamu cintai bersanding dengan seorang gadis lain? Sanggupkah?
Jangan menangis.
Tangisanmu tidak dapat
menjawab dunia.
Kamu berjalan dalam
ketenangan. Kamu ingin membeli lip gloss-mu yang habis. Kamu
memarkirkan mobilmu di depan supermarket. Padahal yang ingin kamu
datangi adalah toko make-up. Kamu yakin kalau parkiran di depan
toko itu penuh karena itulah kamu memarkirkan jauh di seberang toko.
Kamu menyebrangi jalan
dengan hati-hati. Namun, entah bagaimana ada sebuah mobil melaju dengan
kecepatan tinggi ke arahmu. Kamu hanya terdiam, tidak sanggup berpindah dengan
cepat. Tidak sanggup melangkah. Kamu membatu tepat ketika mobil itu menabrakmu
dengan kuat dan melemparkanmu dari tempatmu berdiri.
Kamu tersenyum dalam
balutan gaun putih yang berlumuran darah. Kamu memandangi langit biru yang
seakan tersenyum padamu. Kamu dapat mendengar teriakan dan jeritan orang-orang
yang melihat kejadian tadi. Kedua kelopak matamu mulai terasa berat, hendak menutup
mata emerald indahmu.
Dengan perlahan,
kegelapan memenjarai dirimu.
.
Aliran air akan mati ketika tidak ada yang menggerakkannya
Aliran itu perlahan menjadi tenang
Tenang dalam kegelapan yang menjemputnya
Kegelapan yang panjang
Dalam tidurnya yang indah
Ada satu pertanyaan tertinggal dalam benakmu
"Apakah perasaan kasih sayang itu dapat mati?"
.
.
.
~ Next Chapter ~
Aliran tenang bergelora
.
Ia terdiam membeku ketika melihat tubuh sahabat yang disayanginya
terbujur dengan berbagai macam peralatan di tubuhnya. Ia menangis. Menangisi
kebodohannya. Menangisi semua yang telah ia lakukan. Betapa bodohnya ia tidak
menyadari perasaannya?
.
Lihat,
Air menangis di dalam air
.
.
Yellow Tulip
“Cinta yang Tidak Ada Harapan”
“Cinta yang Tak Terbalas”
“Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar